Sabtu, 17 November 2012

Cinta Tak Berujung


            Hai, namaku Chika Permata, kerap dipanggil Chika. Aku pindahan dari Italia dan sekarang aku berada di Indonesia. Kini aku berumur 16 tahun tepatnya aku duduk di bangku kelas 2 SMA. Hari ini adalah Hari dimana aku pertama kalinya masuk kelas dan bersekolah di Indonesia.
            Aku melangkahkan kakiku dengan mantap setelah aku memakirkan mobilku di area parkir sekolah.
 “SMA ku yang baru, I’m coming,” kataku dalam hati.
Tapi namanya anak baru, ya manalah tahu ruang kelasnya yang baru. Aku masih melangkahkan kakiku dengan terus-menerus melewati koridor sekolah. Semua mata tetap tertuju ke arahku. Tiba-tiba ada seorang cewek yang menghampiriku.
“ Ehm, sorry. Are you new student in this school ?” tanyanya dengan nada sesopan mungkin.
“ Yeah, that’s right. By the way do you know class 11 IPA 1?” tanyaku balik dengan nada yang sama.
“ Kamu lurus aja sampe ruang guru itu, nah disebelah kanan ruang guru ada tangga, kamu naik aja ke sana, terus belok kiri di gang abis tangga. Kamu lurus terus, nah disana ada perpustakaan, kamu belok kanan. Kelas kamu sebelum kelas 11 IPA 2. Ngerti kan?” tanya cewek itu setelah memberitahuku dan aku mengangguk-angguk mencoba mencerna.
“ Thanks,” jawabku dengan santai.
            Aku lalu mencari dimana letak kelasku. Bel tanda masuk berdering. Aku masih di depan kelas menunggu wali kelas 11 IPA 1, sedangkan anak-anak yang lainnya masuk ke dalam kelas mereka masing-masing sambil menatapku dengan tatapan heran. Beberapa menit kemudian Pak Fahmi datang. Setelah Pak Fahmi datang beliau mengajakku masuk dan menyuruhku memperkenalkan diriku ke teman-teman sekelas.
“ D’accordo. Bungiorno! Mi chiamo Chika, sono di Italia. Graziemille!” kataku dengan khas logatku.      
Tiba-tiba siswa sekelas baruku tercengang. Mungkin Pak Fahmi mengerti mengapa siswa-siswinya tercengang dan beliau segera memintaku mengganti bahasaku dangan bahasa Indonesia. Untung saja, aku sudah belajar sedikit demi sedikit bahasa Indonesia. Ya… walaupun belum terlalu lancar. Dan dengan senang hati, aku mengulangi perkenalan diriku lagi dengan memakai bahasa Indonesia. Dan akhirnya teman-teman sekelasku paham.
“ Baik,ada yang mau tanya?” Pak Fahmi membuka sesi tanya jawab untukku murid baru.
            Tiba-tiba seorang cowok yang bernama Asep, ia sebagai ketua kelas tunjuk tangan “Apa kamu bisa mengajarkan kita untuk berbahasa Italia?” tanya Asep.
“ Tentu. Dengan senang hati…,” jawabku lalu tersenyum.
            Setelah aku menjawab semua pertanyaan dari teman-teman kelasku yang baru, Pak Fahmi menyuruhku duduk disebelah Serra. Aku yang sebelumnya nyantai banget, tiba-tiba menjadi bingung lantaran teman-teman baruku memandangiku seolah aku adalah seorang ratu baru yang datang di istana mereka. Tapi, yang membuatku lebih kaget, ternyata aku duduk didepan cewek yang ngasih tahu jalan ke kelas ini tadi. Pantesan aja dia hafal banget jalannya karena ini kelasnya. Dan setelah kita berkenalan, ternyata nama cewek itu Kayla.
Saat istirahat banyak anak-anak yang mendekatiku dan mengajakku untuk berkenalan. Mungkin karena sikapku yang ramah dan gampang nyambung walaupun bahasa Indonesia ku tidak begitu lancar, dalam sehari saja aku sudah dapat banyak teman.
“ Chika, bener kamu belum terlalu lancar bahasa Indonesianya?” Serra bertanya dengan cemas.
            Aku menatapnya dengan heran “ Emang kenapa? Kamu mau ajarin aku berbahasa Indonesia?”
“ Yah kalo lo sendiri mau,” jawab Serra segera. Aku hanya mengangguk.
“ Udah ah, yuk! Gue ajak lo jalan-jalan keliling sekolah, biar tambah gaul,” ajak Serra.
“ Nah ini kelas 11 IPS 2 Chika, gosipnya disini isinya anak-anak yang suka rame, duh cewek-ceweknya dandannya nomor satu pokoknya. Dan kalo 11 IPS 3 anaknya agak kalem-kalem, bisa dibilang agak kuper. Tapi anak-anaknya lebih pinter daripada anak kelas 11 IPS 2, udah gitu cowok-cowoknya lumayan cakep juga. Nah yang terakhir 11 IPS 1, itu kelas anak-anak yang paling pinter diantara semua anak-anak IPS, kalo ada olimpiade ekonomi atau akuntansi biasanya guru-guru ambil anak dari kelas ini. Kalo kelas yang ini 11IPA3 Chika, ini gudangnya para atlet sekolah. Liat tuh yang berdiri bersandar dipintu. Itu namanya Adjie. Bintang sepak bola di sekolah, dia pernah diskors 1 minggu lantaran nendang cowok yang ngegoda ceweknya. Korbannya sampe masuk rumah sakit. Kalo yang lagi duduk disana. Itu namanya Rama. Bintang Basket di sekolah ini juga, preman depan sekolah pernah juga dilempar pake bola basket sampe babak belur gara-gara ngerayu ceweknya. Makanya hati-hati aja Chika!” jelas Serra panjang lebar.
#                      #                      #
            Setelah 1bulan di kelas aku merasa semakin betah, karena kelasnya diisi anak-anak yang pintar tapi kocak abis. So, kelasnya juga di namakan “HIGH CLASS MUSICAL” karena nggak cewek-nggak cowok suka sama musik.
“ Hidup tanpa musik terasa dunia itu hampa!!!” itulah pendapat yang aku dapatkan dari teman-teman kelasku.
            Nggak kaya kelas 11 IPA 2 yang penuh dengan orang-orang serius. Bel istirahat berbunyi, aku, Serra , dan Kayla pergi ke kantin untuk merasakan menu makanan yang baru yang ada di kantin sekolahku. Saat kita sedang asyik mencicipi makanan tersebut tiba-tiba segerombolan cowok datang menghampiri.
“ Hey, pasti lo yang namanya Chika?” tanyanya.
“ Iya. Gue Chika!” jawabku santai.
“ Kenalin, gue Rico,” ucapnya sambil menjulurkan tangannya. Aku membalasnya.
            Setelah lama aku dan Rico berbincang-bincang, tiba-tiba bel masuk berbunyi.
“ Sorry, aku duluan yah....” ucapku.
“ Mau di anter?” tawarnya.
“ Nggak usah. Aku sama teman-temanku aja, lagi pula arah kelas kita berbeda,” tolakku halus.
“ Lain waktu?”
“ Gimana nanti aja!” Aku dan teman-temanku berlalu dari hadapan Rico dan teman-temannya.
            Suasana di kelas saat ini benar-benar sangat ramai dikarenakan Pengajar yang dijadwalkan sekarang tidak masuk, beliau sedang sakit. Seperti biasanya jika tidak ada pengajar pasti kelas ramai, ada yang ngegosip, ngobrol, tidur, dan yang utama ada yang nyanyi-nyanyi.
“ Chik, lo tau nggak?” tanya Serra.
“ Emangnya, ada apa?” tanya balikku.
“ Insya allah kelas kita mau ngadain acara buka puasa bareng di rumah Kayla,”
“ Ooooo….”
“ Lo mau ikut nggak?”
“ Insya allah kalo gue ada waktu,”
“ Gue harap lo bisa datang….”
“ Gue usahain….!”
            Setelah beberapa menit kemudian, seorang guru masuk ke dalam kelasku, mungkin untuk menggantikan Pak Irawan yang sedang sakit. Dan benar saja ternyata Bu Sonia masuk untuk menggantikan tugasnya Pak Irawan. Kita sekelas mulai membuat sebuah permainan yang asyik untuk mengisi waktu luang ini. Tak terasa ternyata bel pulang berbunyi. Aku dan teman-temanku pulang ke rumah kita masing-masing. Dan seketika sekolah menjadi sepi.
“ Chika,” seru Serra.
“ Kenapa?”
“ 1 bulan lagi ada acara buka puasa tuh…,”
“ Terus??”
“ Nanti berangkat ke rumah Kayla, bareng sama gue yah!!” pinta Serra.
“ Of course!”
#                      #                      #
            Ramadhan tiba seiring terbukanya pintu maaf  Illahi dengan segenap kerendahan hati dan keikhlasan mohon dimaafkan atas salah, khilaf, ucapan dan perbuatan yang tidak berkenan. Selamat menunaikan ibadah puasa.
            Akhirnya bulan yang ditunggu oleh umat islam pun datang, yaitu Bulan Ramadhan yang penuh berkah. Tepat pada perjanjian semula bahwa anak kelasku akan mengadakan acara buka puasa bareng di rumah Kayla yang akan datang lusa nanti.
            Tepat pada hari ini acara itu pun di mulai, aku dan Serra datang pagi-pagi ke rumahnya untuk membantu-bantu disana. Ya… namanya acara buka puasa pasti pada datang sore, tapi sekitar jam 2 siang banyak anak yang sudah datang. Sambil menunggu anak-anak yang belum datang, aku dan yang lain jalan-jalan disekitar kawasan rumah Kayla.
            Waktu adzan pun tinggal beberapa menit lagi tapi ada salah satu anak dari kelasku yang belum datang, namanya Eldo. Sambil menunggu adzan berkumandang aku dan yang lain menyiapkan makanan untuk berpuka puasa nanti yang akan dilaksanakan di ruang mushollanya.
ALLAHU AKBAR… ALLAHU AKBAR… adzan pun berkumandang saatnya untuk kita berbuka puasa.
“ Kay, si Eldo kemana? Masa jam segini dia belum datang?” tanyaku pada Kayla.
“ Nggak tau… nyasar kali tuh orang!” jawabnya santai.
“ Cie… Chika nanyain, ada apa tuh…???” ledek Rizka salah satu teman kelasku.
“ Suka yah..??” tambah Dewi.
“ Siapa lagi yang suka sama dia, just nanya. Nggak boleh?” jawabku dengan nada yang sinis.
“ Biasa aja mbak….,”
            Setelah kita semua selesai berbuka puasa, kita sholat maghrib berjama’ah. Setelah itu kita menyantap menu makanan yang sudah disediakan. Sambil kita asyik menyatap makanan tersebut kita juga berfoto-foto. Tak terasa waktu adzan isya pun berkumandang, kita semua mengakhiri makan kita untuk melakukan sholat isya dan tarawih berjama’ah di musholla rumah Kayla. Ketika kita selesai sholat isya ternyata Eldo dan teman-temannya datang. Tapi, dia datang tidak sendiri, dia membawa teman-temannya yang berbeda kelas denganku dan yang lainnya.
“ Do, lo kok bawa mereka sih??? Mereka nggak sekelas sama kita!” ucap Kayla kesal.
“ Udahlah it’s oke, cause tadi gue abis ada acara dulu sama mereka. Gue kan nggak enak kalo misalnya gue sendiri kesini, ya udah gue bawa mereka aja ke sini….!” jawab Eldo santai.
“ Kay, numpang ya… males nih, gue pulang ke rumahnya!” ujar Kevin memelas.
“ Terserah lo deh,” jawab Kayla cuek dan meninggalkan mereka.
            Terpaksa deh, Kayla menerima Kevin, Doni, dan Rico di rumahnya. Tapi, ternyata eh ternyata asyik juga loh mereka!!! Nggak sia-sia juga Eldo membawa mereka ke acara ini. Hehehe….
#                      #                      #
            Mulai dari situlah aku mulai dekat dengan Rico, n’tah kenapa aku merasa tenang jika ada disampingnya. Apakah aku sedang jatuh cinta?? Ah, nggak mungkin aku jatuh cinta kepada Rico?? Sungguh aneh! Ya, kalo aku akuin dia memang yang manis diantara yang lainnya dan dia juga aktif di sekolah.
Tapi, sayang banyak yang nggak suka dengannya karena dia sering mempermainkan perasaan seorang wanita. Semalaman penuh aku berbincang-bincang dengannya, n’tah itu tentang dirinya ataupun diriku kita saling terbuka saja. Tak terasa begitu lamanya kita mengobrol ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 pagi dan tepat satu jam lagi waktu untuk sahur.
Kita semua yang berada diatas untuk turun ke halaman rumah Kayla, karena akan ada acara bakar-bakaran. Jangan salah loh, bukan bakar rumah tapi bakar ayam! Sekitar pukul 02.30 bakar ayam pun selesai dan siap untuk di hidangkan. Hmm… lezat!! Pukul 03.00 kita memulai acara sahur bareng, kemudian disusul oleh sholat berjama’ah di musholla.
Seperti biasanya setelah sholat subuh kita semua tewas seketika alias tidur. Jangan salah sangka loh, kita tidurnya di pisah kok!! Masa cowok-cewek tidur masal bareng? Oh My God!! Apa kata dunia??
Matahari bersinar terang, menyambut kita semua dengan sinarnya!!! Sekitar jam 08.00 pagi kita baru bangun karena kita semua tidur seusai sholat shubuh dilaksanakan dan kita semua semalam suntuk bergadang. Pukul 09.30 kita semua sudah rapih dan kita siap-siap untuk melaksanakan jadwal acara kegiatan kita selanjutnya.
Hari ini kita akan jalan-jalan ke T.A ( Taman Anggrek ) setelah itu kita baru ke mall. Di sana kita menonton sebuah film yang ditulis oleh Andre Hirata, yaitu Sang Pemimpi. Pada pukul jam 14.00 kita baru pulang ke rumah kita masing-masing. Acara pun ditutup.
#                      #                      #
Setelah lamanya liburan bulan ramadhan kita masuk sekolah kembali. Beberapa lama kemudian kisah cintaku di mulai. Aku mulai lebih dekat dengan Rico, dan kita saling bertukar surat. Dari situlah rasa itu muncul. Rasa yang dirasakan oleh semua insan di dunia ini. Rasa yang dimiliki oleh semua makhluk ciptaan Tuhan. Ya… rasa itu adalah CINTA.
Cinta yang dapat membuat semua orang mengorbankan apapun. Cinta yang datang begitu bahagia dan berakhir meninggalkan luka. Cinta yang datang dengan sendirinya dan pergi dengan sendirinya.
Saat itu ku pikir dia juga memiliki rasa yang sama sepertiku, tapi mungkin itu hanya perasaanku saja. Memang dia pernah menembakku menjadi pacarnya, tapi aku tak begitu percaya.Ya… walaupun aku mengharapkan dia menyayangiku lebih dari seorang teman.
Ketika dia menembakku, beberapa hari kemudian sebelum aku menjawab “YA atau TIDAK”  aku memberinya beberapa syarat, tapi setelah itu jarak kita terputus. N’tah apa penyebabnya? Hanya Tuhan lah yang tahu. Aku dengannya tak ada komunikasi. Tak pernah bertukar senyum. Tak pernah saling menyapa. Aku tak tahu apa yang harusku lakukan, mungkin aku belum pantas mendapatkannya. Dan seperti kebanyakkan orang di malam yang sejuk… aku hanya menulis hitam diatas putih. Menulis apa yang inginku katakan suatu saat nanti, n’tah dengan siapa? Aku hanya menulis apa perasaanku saat itu.
Aku bukan seorang Pujangga
Yang dapat merangkai kata………….
Aku bukan seorang Penyair
Yang dapat merangkai kata……………
Aku bukan seorang puitis
Yang dapat merangkai kata……………
Tapi , aku hanyalah manusia biasa
Yang dapat mengatakan
Apa yang sesungguhnya
Bahwa aku “  MENCINTAIMU………”
            Dan cintaku berakhir tanpa ada kisah yang pasti antara aku dengannya.

TAMAT


Ending :
·       D’accordo : Oke.
·       Bungiorno : Selamat Pagi/ Hallo.
·       Mi Chiamo, Chika : Nama Saya, Chika.
·       Sono Di Italia : Saya Dari Italia.
·       Graziemille : Terima Kasih Banyak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar